Wednesday, November 23, 2016

Hadis Menjelaskan Air dan Manfaat Kegunaannya



BAB PERTAMA
HUKUM TENTANG AIR
Masalahh 1
AIR DAN MANMFAAT KEGUNANNYA

عن ابى هريرة رضي الله عنه قال, قال رسول الله صلى لله عليه وسلم : اللهم طهرنى بالثلج والبرد والماء البار   (رواه مسلم
"Dari Abu Hurairah berkata: "Rasulullah SAW. bersabda: "Ya Allah! Sucikanlah daku dengan salju, embun dan air sejuk/dingin." (HR. Muslim)
Hukum Air

i. Hadis (1), ini menyatakan bahwa air adalah suci dan mensucikan
ii. Kata sebagian ulama: Air yang dimaksudkan dengan hadits ini, ialah air mutlaq (air yang masih tetap dalam keasliannya).

Kata sebagian ahli tahqiq: Yang dimaksud dengan air di sini, ialah air mutlaq dan air muqayyad (air yang terikat dengan sesuatu dan disandarkan kepada sesuatu nama yang lain dari nama tempat atau wadah, seperti air mawar, air nyiur, ari buah-buahan atau sari buah).

Disandarkan kepada sesuatu, hanyalah untuk membedakannya saja sama juga dengan menyandarkan "air" kepada perkataan: sungai, sumur, laut dan sebagainya. Menyandarkan air kepada sesuatu, tiadalah menghilangkan zat atau kekuatannya, yakni: tetap mensucikan.

Mereka sependapat menetapkan, bahwa air banyak, yang tidak berubah karena kejatuhan najis ke dalamnya, tetap boleh kita pergunakan untuk bersuci. Demikian pula air yang berubah karena ada belerang atau pohon-pohon kayu, tumbuh-tumbuhan, kiambang dan sebagainya. Air yang melalui tanah bergaram, maka perubahan bau dan warnanya, tidaklah menghilangkan kesuciannya dan tiadalah menghilangkan kekuatannya, yakni tetap mensucikan.(hal. 12)
Pingin info Lebih banyak, klik dibawah
Daftar Isi Blog

Ibnu Qudamah berkata: "Benda-benda yang cair, misalnya kuah, susu dan sebagainya, kecuali air nabidz (air yang beragi), tidak dapat mensucikan, karena Allah hanya menetapkan kekuatan mensucikan itu pada air saja".
                                                                               
Dan "air mudlaf" (air yang disandarkan kepada sesuatu nama lain), yang kita tidak boleh besuci dengannya, ada tiga macam:
  1. Air yang diperas dari benda-benda yang suci, seperti air mawar, air cengkeh, air akar kayu yang dipotong.
  2. Air yang bercampur dengan benda yang suci dan telah berubah namanya karena pencampuran itu, seperti telah menjadi air kuah, air teh, air kopi dan sebagainya.
  3. Air yang telah dipakai untuk memasak sesuatu, merebus pisang dan sebagainya.

Semua ulama menetapkan bahwa kita, tidak boleh bersuci dengan air-air tersbut. Hanya Ibnu Laila dan Al-Asham yang membolehkan bersuci dengan air perasan buah-buahan yang suci. Air yang bercampur dengan benda suci yang belum berubah namanya lantaran percampuran itu, diperselisihkan hukumnya oleh para ulama.

Malik, Asy-Syafi'iy dan Ishak Ibnu Rahawaih tidak membolehkan kita bersuci dengan air itu.
Abu Hanifah dan Ahmad (dalam salah satu penjelasannya), membolehkan kita bersuci dengan air itu.

Air yang disandarkan kepada tempat (mudhaf), boleh kita pakai buat bersuci, seperti air yang disandarkan kepada sungai, laut dan sebagainya.

Air yang berubah karena benda yang suci, yang tak dapat dihindarkan daripadanya, seperti air yang berkiambang, kita dibolehkan bersuci dengannya, walaupun telah berubah warnanya, rasanya dan baunya.

Air yang berubah dengan benda yang sama sifatnya dengan air, tetap suci mensucikan, seperti tanah, maka perubahannya itu, tidaklah menghilangkan kesuciannya dan kekuatannya. Demikian juga tetap suci, air yang dicampurkan ke dalamnya seumpama kapur barus, kayu cendana dan sebagainya. Begitu pula halnya air yang bercampur dengan minyak.

Air yang berubah lantaran telah lama tergenang dan tak ada sesuatu yang mengubahnya, tetap suci mensucikan. Air yang terjemur matahaari, suci mensucikan, kita tidak makruh memakainya, walaupun ulama Syafi'iyah memakruhkan.

iii. Diberitakan oleh An-Nasaiya dan Ibnu Khuzaimah, bahwasanya Nabi SAW. pernah mandi dengan air yang diisi dalam bejana bekas dipakai buat mengaduk tepung. (hal. 13)  

Air yang telah dirubah namanya oleh benda yang suci, tidak lagi menyucikan, hanya suci saja. Karena itu, air ini tidak dapat dipakai buat bersuci. 

Tentang hal air nabidz (air sari buah yang beragi), menurut pendapat Al-Auza'i dan Abu Hanifah, boleh kitamekainya. Pendapat ini diterima juga dari Ikrimah seorang tabi'ir besar.

Air yang dimaksudkan hadits ini, hanyalah air yang masih tetap dalam kejadiannya yang asli, yang tiada bercampur dengan sesuatu benda dan belum berubah karena sesuatu  benda. Para ulama berkata:air yang nama air, baik air sungai, air sumur, air hujan dalam lain-lainnya, semuanya suci menyucikan kecuali ada nash yang terang tegas menyatakan ketidaksuciannya. Begitu juga segala sesuatu, di hukum halal dan suci, selagi tidak ada nash dan Kitab atau Sunnah yang menghukumnya haram dan najis.

Jika diperhatikan makna hadits ini, nyatalah bahwa air yang dimaksud adalah segala macam air, termasuk muqayyad atau air mudhaf. Air ini disamakan dengan air mutlaq, karena mengingat bahwa air tersebut berasal dari air yang diturunkan Allah. Air mawar, air sedapan pohon kayu, air yang tercampur dengan benda-benda yang suci yang tidak menghilankan zatnya dan masih tetap bernama air tetap dalam pengertian hadits di atas. Tidak demikian dengan santan yang tidak bisa disebut air.

Tegasnya, kita boleh berthaharah dengan air yang diperas dari buah-buahan, air mawar dan air kelapa. Hakekatnya air air tersebut adalah air yang turun dari langit, dihiasi bumi. Dari bumi dihisap oleh pohon kelapa, kemudian menjadi air kelapa sesudah memulai beberapa proses.

Tentang hal air musyammas (air yang terjemur matahari dengan bejana) tak ada hadis walaupun dha'if yang menyatakan kemakmuran kita memakainya. Karena itu kitak tak dapat memakruhkan orang memakai air yang terjemur matahari dalam bejana besi, berdasarkan ketatap syara'.

Ringkasnya, air yang dibolehkan untuk berwudlu dan mandi ialah 
  1. Air mutlaq
  2. Air buah-buahan yang suci, seperti : air kelapa, air jeruk dan lain-lain
  3. Air yang bercampur dengan benda-benda yang suci dan zat dari air itu tidak berubah
Para Fuqaha telah membahas soal air dengan panjang lebar. Di sini kami terangkan sekedar yang diperoleh dari hadis-hadis saja. Dalam urusan air ini, kita hanya memperoleh tujuh buah hadis  yaitu :
  1. Yang menegaskan, bahwa air laut suci mensucikan. 
  2. Yang menegaskan, bahwa air adalah suci mensucikan, tidak dinajiskannya oleh sesuatu.
  3. Yang menerangkan, bahwa apabila kadar air sampai dua qullah, tiadalahia dipengaruhi najis yang jatuh ke dalamnya.
  4. Yang menyuruh kita menuangkan air di atas tanah bekas dikencingi
  5. Yang menerangkan, bahwa apabila seseorang bangun dari tidur dan hendak mengambil air sembahyang, maka janganlah langsung ia mamasukkan tangannya ke dalam gayung atau bejana tempat air, sebelum membasuhkannya tiga kali di luar gayung atau bejana.
Inilah tujuh buah hadis yang menjadi pokok ijtihad para mujtahidin dalam urusan air, yang banyak menimbulkan berbagai pendapat. Satu persatu dari hadis-hadis yang tujuh ini, akan kita bahas.
Previous Post
Next Post

0 komentar: