Thursday, May 11, 2017

Kenapa PNS Sibolga Dilarang Pakai Elpiji 3 Kg???

SIBOLGA - Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemko Sibolga akan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke rumah-rumah aparat sipil negara (ASN) untuk memastikan adanya ASN yang masih memakai gas bersubsidi ukuran 3 kg.


ASN pengguna gas bersubsidi itu siap-siap dikenai sanksi. Kepala Disperindag Pemko Sibolga Robinhot Panjaitan mengatakan, saat ini terjadi kelangkaan gas ukuran 3 kg di Kota Sibolga. Kondisi ini diduga terjadi karena gas bersubsidi itu dibeli masyarakat mampu.

Padahal, peruntukannya sesuai dengan Peraturan Menteri (Permen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No 26 Tahun 2009 tentang Penyediaan dan Pendistribusian Elpiji Bersubsidi seharusnya hanya untuk masyarakat kurang mampu yang berpenghasilan di bawah Rp1,5 juta.


Adapun ASN rata-rata berpenghasilan di atas Rp2 juta per bulan sehingga tidak seharusnya menggunakan gas bersubsidi. Selain itu terdapat tata cara pelaksanaan sistem pendistribusian bagi keluarga yang punya penghasilan tidak lebih dari Rp1,5 juta per bulan.

“Jadi apabila nantinya ditemukan ASN atau pegawai negeri sipil (PNS) Pemko Sibolga yang masih menggunakan elpiji bersubsidi 3 kg ini, mereka akan dikenai sanksi administrasi,” ujarnya.

Robinhot mengatakan, Wali Kota Sibolga Syarfi Hutauruk juga telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor: 800/49 tentang pengalihan pemakaian elpiji bersubsidi ukuran 3 kg ke elpiji ukuran 5,5 kg yang nonsubsidi.

Surat edaran itu dikeluarkan karena ada indikasi ASN atau PNS di Pemko Sibolga masih ada yang menggunakan gas bersubsidi 3 kg meskipun penghasilannya telah melebihi Rp1,5 juta.

“Surat edaran wali kota tersebut kepada para staf ahli, asisten, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) serta kepala bagian (kabag) dan camat se- Kota Sibolga agar menerapkan Permen ESDM Nomor 26 Tahun 2009 tersebut. Kiranya ini bisa menekan penggunaan gas bersubsidi 3 kg di kalangan ASN dan beralih ke gas nonsubsidi,” paparnya.

Sebelumnya di salah satu pangkalan elpiji di Jalan KH Ahmad Dahlan, Kelurahan Pancuran Dewa, Kecamatan Sibolga Sambas, Kota Sibolga, sempat terjadi kericuhan akibat kelangkaan gas elpiji di daerah itu dan di Kota Sibolga. Puluhan warga yang antre menunggu untuk mendapatkan gas tiba-tiba ribut dan berebut gas.

Keributan dipicu salah seorang pembeli yang mengendarai sepeda motor pelat merah ikut membeli. Warga yang antre sempat melarang pembeli yang diduga aparat ASN itu untuk membeli gas bersubsidi. Begitu juga pihak agen yang berada di pangkalan elpiji. Namun karena pembeli tersebut marah-marah dan memaksa, akhirnya agen melalui pangkalan memberikan satu dari dua elpiji 3 kg yang ingin dibelinya.

Disperindag Pemko Sibolga dan Kepolisian Resor Kota (Polresta) Sibolga sebelumnya juga menemukan 10 tabung elpiji bersubsidi 3 kg dari sebuah restoran di Sibolga. Salah seorang warga Kota Sibolga, Kartika Syaputra, mengaku menyayangkan temuan itu.

Sebab, elpiji bersubsidi seharusnya untuk masyarakat kurang mampu. “Elpiji bersubsidi 3 kg itu untuk masyarakat tidak mampu dan bukan untuk para pengusaha restoran. Seharusnya pengusaha restoran memakai ukuran 12 kg. Kami berharap hal serupa tidak lagi terjadi di Kota Sibolga agar pasokan kepada masyarakat penerima tidak terganggu,” sebutnya.
Previous Post
Next Post

0 komentar: