Saturday, September 9, 2017

Kenapa Profesi PNS Masih Jadi Primadona Anak Muda

Alasan Profesi PNS Masih Jadi Primadona Anak Muda

Puluhan ribu anak muda Indonesia menyerbu pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang mulai dibuka pada pekan ini. 

Di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, antuasiasme mereka pun sempat membuat server tak bisa diakses sehingga panitia meniadakan print kartu antrian/informasi

Psikolog Universitas Indonesia, Ivan Sujana mengungkapkan beberapa faktor yang menjadi alasan posisi PNS masih memikat hati anak muda. Salah satunya adalah dorongan dari ayah atua ibu.
Ivan mengatakan, tak sedikit orang tua yang sudah lebih dulu menjadi PNS, berharap anaknya juga menjalani profesi sama meski tak sampai memaksakan hal tersebut. 

“Sementara dari sisi anaknya, orang terdekat yang dia lihat tentu orang tua. (Jika) Orang tuanya bekerja sebagai PNS, jadi ketika si anak tidak melihat cukup dalam alternatif yang lain, ya PNS itu akan dilihat sebagai suatu prioritas pertama,” ujar Ivan ketika dihubungi CNNIndonesia.com, Sabtu (9/9).

Namun, ini akan berbeda bagi anak yang memiliki pengalaman lain.  Misalnya, sambung Ivan, sang anak banyak berinteraksi dengan orang lain dan pernah bekerja di perusahaan non-pemerintah atau perusahaan swasta. 

Hal itu, kata Ivan, menjadi bekal wawasan yang lebih luas bagi sang anak sehingga anak mempunyai pembanding.

“Tapi ketika pengalamannya relatif sempit, ya dia jadinya kurang bisa melihat alternatif-alternatif yang tersedia seperti bekerja di perusahaan swasta." 
"Kalaupun dia tahu, dia tahunya enggak cukup mendalam, jadinya untuk merambah ke area yang non-PNS mungkin ada sedikit hambatan untuk mencoba. Jadi faktor dari orang tua ada, dari anak ada,” terangnya. 

Hal lain yang menjadi pemikat generasi muda untuk merambah pekerjaan sebagai PNS adalah status sosial. 

Di daerah lain selain Jakarta, Ivan menjelaskan, ada yang mengaitkan PNS dengan status sosial yang akan mengangkat derajat keluarga.

“Jadi ada unsur itu juga (status sosial), tapi kita tidak bisa generalisasi itu terjadi di seluruh Indonesia, itu hanya di tempat-tempat tertentu saja,” jelas Ivan. 

Faktor terakhir menurut Ivan, adalah karena kestabilan gaji. 

Peningkatan gaji PNS memang sudah diatur secara berkala. Bahkan, hingga pensiun pun, para PNS masih mendapat tunjangan dari pemerintah.

Terkait faktor ketiga, Ivan menilai, akan lebih baik jika kenaikan gaji PNS didasarkan pada performa kerja pegawai.  

Ia berpendapat, pemerintah bisa meningkatkan sistem kenaikan gaji di kepegawaian negeri. Misalnya, kenaikan gaji lebih berorientasi pada performa kerja, bukan dari rentang lama menjadi PNS.

"Jadi kalau misalnya dia kerjanya bagus walaupun kasarnya anak baru, dia akan juga berhak mendapat bonus. Kemudian kalau sudah senior tapi dia nggak perform, ya dia nggak bisa dapat bonus dong," kata Ivan. (aal/vws)    

Previous Post
Next Post

0 komentar: