Tuesday, December 26, 2017

Rahasia Cinta Kepada Allah di atas Segalanya

Advertisement
Telah menjadi sunatullah setiap manusia yang hidup di dunia pasti memiliki seseorang yang dicintainya atau yang menjadi pujaan hatinya. Ketika seseorang beranjak dewasa dia mencintai pujaan hatinya yaitu sang pacar. Ketika seseorang beranjak baru menikah, berkeluarga, menempuh hidup baru, dia akan mencintai pujaan hatinya yaitu sang suami. Ketika seseorang baru melahirkan, dikaruniai buah hati, diberikan amanat terbesar, dia akan mencintai dambaan hatinya yaitu sang anak. Ketika seseorang beranjak lansia atau lanjut usia, dimana rambut dipenuhi uban, penglihatan tak jelas, pendengaran berkurang, berdiri tak sempurna, bekerja tak kuat, dia akan mencintai panutan hatinya yiatu sang cucu. Tiap hari hati mereka tak akan pernah lepas dari seseorang yang dicintainya, seseorang yang menjadi idaman dan pujaan hatinya. 
Adakah seseorang atau Dzat yang bisa atau harus menggantikan pujaan, idaman, panutan hatinya di dunia ini. Dzat yang harus menduduki kursi nomor satu di kala mereka hidup, bahkan sampai kematian datang untuk melepaskan semua kenikmatan dunia ini. Dzat itu tetap ada, Dzat itu tetap diingat, Dzat itu diyakini dan diimani keberadaannya. Dzat yang menjadi nomor satu itu, yang harus mengalahkan segala bentuk kecintaan kenikmatan dunia ini adalah Dzat Allah SWT. 


Apapun bentuk cintanya, baik kepada sang pacar, sang suami, bahkan sang cucu pun, pasti semua diawali denga ketiadaan dan diakhiri dengan ketiadaan pula. Kalaukah pernyataannya seperti itu, cinta kepada sang pacar yang begitu cantinya, cinta kepada sang suami yang bersemanga mencari nafkah pergi pagi pulang malam, cinta kepada sang cucu yang begitu lucu dan imutnya, semua wujud pada hakikatnya di awali dengan ketiadaan dan akan diakhir dengan ketiadaan pula. Apakah pantas wujud yang seperti ini mengalahkan kecintaan  kita kepada Dzat yang memiliki wujud dan keberadaan tak pernah luput sedikitpun dari hati kita. Baik ketika kita sedang duduk santi di rumah, bekerja di kantor, berbelanja dipasar, shalat di masjid, bahkan ketika tidur sekalipun Dzat itu tetap melihat, mengawasi, mendampingi gerak gerik anggota tubuh kita. Dzat yang bukan hanya mendampingi dikala kita senang, bahagia, riang gembira, tapi juga dia siap menjadi penolong dikala kita susah, sakit, bangkrut, sampai kematian datang  menghampiri.

Fungsi  Cinta Kepada Allah di atas Segalanya


Apakah kita tega, apakah kita berani, menjauhi Dzat yang begitu setia menemani di kala senang, menolong di kala susah, kapanpun dan dimanpun kita berada, tanpa kita bayar, tanpa kita panggil. Dzat tersebut adalah Dzat Allah SWT. Sungguh merugi seseorang yang mencintai kenikmatan kehidupan duni ini mengalahkan cintanya kepada Dzat Allah. Bukankah segala kenikmatan duni ini diberikan oleh Dzat Allah SWT, bukan segala kenikmatan dunia ini hakikatnya dimiliki oleh Dzat Allah SWT. Jangkan emas yang berkilau, rumah yang megah, uang yang berjumlah miliaran, tanah yang luas, istri yang cantik, suami yang cakeup, sampai nafaspun yang kita hirup pun setiap detik, setiap menit, setiap hari, tanpa kita bayar sejak lahir sampai mati, bukan kah semua itu milik Dzat Allah SWT. Tapi kenapa, ketika kita butuh dikala susah, kita perlu di kala menderita, yang pertama kita ingat bukan Dzat Allah SWT. Bukankah Dzat Allah SWT yang seharusnya menjadi nomor satu, Dzat Allah SWT yang pertama kita ingat, Dzat Allah SWT yang pertama kita ucapkan baik senang maupun menderita. Kalau Cinta kepada Dzat Allah SWT di atas segalanya, maka cinta kepada selain-Nya akan terasa bahagia. Amin.

Previous Post
Next Post

0 komentar:

close